Perkembangan Sektor Perikanan Bikin “Surprise”

YOGA SUKMANA
Kompas.com – 15/07/2017, 16:36 WIB

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan berbagai pencapaian sektor perikanan Indonesia saat ini.

“Untuk pertama kali, neraca perdagangan perikanan Indonesia nomer satu di Asia Tenggara,” ujarnya dalam acara Halal Bihalal Iluni UI di Jakarta, Sabtu (15/7/2017).

Selama ini, Indonesia selalu berada di bawah bayang-bayang Thailand dan Filipina dalam urusan ekspor ikan. Namun kondisinya sekarang berubah.

Kebijakan pemberantasan illegal fishing, moratorium kapal ikan eks asing dan larangan bongkar muat kapal di tengah laut, hingga penegakan hukum melalui penenggelaman kapal yang dilakukan Indonesia telah berimbas kepada sektor perikanan Thailand dan Filipina.

Hal ini meyakinkan Menteri Susi bahwa sektor perikanan kedua negara itu justru ditopang oleh ikan dari laut Indonesia. Saat ini tutur Susi, ekspor perikanan Indonesia naik 5 persen, sementara impor ikan justru turun 70 persen.

Stok ikan Indonesia juga naik dari 6,5 juta ton menjadi 12,6 juta ton. Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang menjadi salah satu indikator kesejahteraan naik dari 104 menjadi 110.

Usaha perikanan tangkap juga kian menguntungkan lantaran Nilai Tukar Usaha Perikanan (NTUP) juga naik dari 102 menjadi 120.

Sementara, tutur perempuan asal Pangandaran Jawa Barat itu, konsumsi ikan nasional juga naik dari 36 kg menjadi 43 kg per orang. “Surprise yang luar biasa,” kata menteri nyentrik tersebut.

 

Sumber : http://ekonomi.kompas.com/read/2017/07/15/163608326/perkembangan-sektor-perikanan-bikin-surprise-

foto : Menteri KKP Susi Pudjiastuti dalam konferensi pers Senin (10/7/2017) – dok kkp

Menyelam di Daerah Tropis ? Jangan Makan Ikan Karang !

Mengurangi konsumsi wisatawan terhadap ikan karang merupakan hal yang harus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan perikanan di Palau. Ini merupakan hasil penelitian terbaru dari University of British Columbia (UBC), yang juga menyarankan agar negara kepulauan lainnya untk mengadopsi strategi tersebut.

Perubahan iklim akan menyebabkan penurunan kualitas ekosistem terumbu karang di Palau, selanjutnya penelitian ini merekomendasikan agar pengelolaan pariwisata memasukkan pengurangan lebih dari 70 % jumlah ikan karang yang dikonsumsi oleh wisatawan. Strategi ini relevan untuk pengembangan berkelanjutan bagi pulau-pulau kecil lainnya yang sekiranya akan terkena dampak signifikan dari perubahan iklim terhadap lautan.

“Terumbu karang Palau dan komunitas perikanannya sangat indah dan dikenal sebagai tujuan wisata selam kelas dunia”, tutur peneliti utama, Collette Wabnitz, research associate with the Nippon Foundation-UBC Nereus Program at UBC’s Institute for the Oceans and Fisheries. “Jumlah wisatawan dapat mencapai sembilan kali populasi lokal dan sebagian besar datang untuk menikmati panorama laut. Hal ini memberikan tekanan yang besar pada sumber daya lautan yang sangat penting bagi kebudayaan, ketahanan pangan, dan penghidupan masyarakat lokal”.

Palau, sebuah negara kepulauan dengan 700 pulau di Selatan Pasifik, sangat tergantung pada pariwisata. Banyak penelitian difokuskan pada kerusakan terumbu karang yang ditimbulkan oleh wisatawan -dari menginjak terumbu sampai interaksi dengan biota laut- sementara itu, penelitian ini yang pertama mengangkat isu dampak mengkonsumsi ikan yang sama yang dilihat wisatawan melalui masker selamnya.

Para peneliti mengembangkan model komputer sosio-ekologi untuk mengeksplorasi skenario-skenario kebijakan pariwisata, perubahan iklim, konservasi laut, dan ketahanan pangan. Konsumsi ikan muncul sebagai faktor penting dalam penurunan kualitas ekosistem di masa depan.

Kemudian peneliti menemukan bahwa kesehatan terumbu karang dapat dijaga dengan mengalihkan konsumsi ikan karang menjadi ikan lautan, misalnya tuna, daripada kerapu, kakap, dan ikan kakak tua.

“Kebiasaan makan ini menghilangkan akan jenis ikan penting dari terumbu karang, ini sangat ironis karena atraksi ikan-ikan tersebut lah yang menyebabkan wisatawan datang. Langkah ini perlu dilakukan sekarang, dibandingkan dengan adaptasi perubahan iklim di masa depan”, ungkap Andres Cisneros-Montemayor (co-author), Nippon Foundation-UBC Nereus Program manager. “Keberlanjutan pariwisata, khususnya ekowisata, tidak boleh mengancam ketahanan pangan penduduk lokal maupun lingkungannya”.

Rekomendasi penelitian ini, yang sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan perikanan lepas pantai nasional sebagai bagian dari Suaka Laut Nasional, memungkin Palau melindungi ekosistem terumbu karang nya serta industri yang bergantung pada terumbu karang, serta kebudayaan lokal untuk menangkap dan mengkonsumsi hidangan laut, terutama ikan karang.

“Lautan merupakan pusat kehidupan dan kebidayaan Palau, konsumsi ikan karang harus dijaga agar berkesinambungan”, tutur Yoshitaka Ota (co-author), Nippon Foundation-UBC Nereus Program director of policy at the University of Washington. “HAl yang terpenting bagi penduduk Palau adalah tetap berhubungan dengan laut, mengkonsumsi ikan laut, menangkap ikan dan memelihara kebudayaan mereka, tekoi ra belau – seperti yang mereka katakan dalam bahasa Palau. Kami berharap bahwa penelitian ini dapat digunakan dalam kebijakan Negara Kepulauan Pasifik (Pacific Island Nation) untuk menyatakan bahwa mereka dapat melakukannya sekarang dan untuk masa depan”.

Sumber : https://www.sciencedaily.com/releases/2017/09/170921090248.htm

Refensi Jurnal :

  1. Colette C.C. Wabnitz, Andrés M. Cisneros-Montemayor, Quentin Hanich, Yoshitaka Ota. Ecotourism, climate change and reef fish consumption in Palau: Benefits, trade-offs and adaptation strategiesMarine Policy, 2017; DOI: 10.1016/j.marpol.2017.07.022
1 47 48 49