Dosen IPB University Kenalkan Coolbox Bermesin Pendingin kepada Nelayan Cilincing Jakarta Utara

CILINCING, JAKARTA UTARA, 19 Agustus 2026. – Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program “Dosen Pulang Kampung” dilaksanakan dengan menghadirkan inovasi teknologi bagi masyarakat nelayan di Cilincing, Jakarta Utara, DKI Jakarta. Kegiatan tersebut mengusung tema “Aplikasi dan Pengenalan Teknologi Pendingin Portabel dalam Pemberdayaan Masyarakat Nelayan di Cilincing Jakarta Utara, DKI Jakarta.”. Pada kegiatan ini juga di hadiri oleh Bapak Khairinal (Dinas Katahan Pangan, Kelautam dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta), dan Bapak Riyady Akbar (Dinas Katahan Pangan, Kelautam dan Pertanian, Jakarta Utara).

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan Coolbox bermesin  pendingin portabel yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan dalam menjaga kualitas dan kesegaran hasil tangkapan ikan selama proses penanganan, penyimpanan, hingga sebelum dipasarkan.

Bagi masyarakat nelayan, kualitas hasil tangkapan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan nilai jual ikan. Hasil tangkapan yang tidak segera mendapatkan penanganan dan pendinginan yang baik berpotensi mengalami penurunan mutu, sehingga berdampak terhadap pendapatan nelayan.

Melalui kegiatan “Dosen Pulang Kampung”, tim dosen IPB University yang terlibat sebagai anggota diantaranya, Prof. Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M.Sc. ; Prof. Dr. Ir. Sugeng Hari Wisudo, M.Si, Prof. Dr. Ir. Mohammad Imron, M.Si, dan Dr. Fis Purwangka, S.Pi, M.Si.

Pada kegiatan ini Tim Dosen IPB University memberikan edukasi dan demonstrasi secara langsung mengenai prinsip kerja, penggunaan, serta manfaat teknologi pendingin portabel. Para nelayan juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya penerapan rantai dingin (cold chain) dalam mempertahankan mutu hasil perikanan. Coolbox merupakan tempat untuk menaruh ikan hasil tangkapan. Nelayan pada umumnya menggunakan es untuk menjaga mutu ikan hasil tangkapannya. Namun, kali ini diperkenalkan Coolbox yang bermesin pendingin selayaknya feezer.

“Teknologi ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi nelayan untuk mempertahankan kualitas ikan hasil tangkapan, terutama ketika ikan belum dapat langsung dipasarkan,” ujar tim pelaksana kegiatan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga mengikuti praktik penggunaan alat. Demonstrasi dilakukan mulai dari persiapan alat, pengoperasian sistem pendingin, hingga tata cara penanganan ikan agar proses pendinginan dapat berlangsung secara optimal.

Antusiasme masyarakat nelayan terlihat selama kegiatan berlangsung. Para peserta aktif berdiskusi mengenai penggunaan teknologi, kebutuhan energi, kapasitas pendinginan, serta kemungkinan penerapannya dalam aktivitas penangkapan ikan sehari-hari.

Program “Dosen Pulang Kampung” juga menjadi sarana bagi Dosen IPB University untuk mendekatkan hasil penelitian dan inovasi teknologi kepada masyarakat. Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pengenalan teknologi, tetapi dapat mendorong peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menerapkan teknologi tepat guna di sektor perikanan.

Dengan adanya teknologi pendingin portabel, masyarakat nelayan di Cilincing diharapkan mampu melakukan penanganan hasil tangkapan secara lebih baik sehingga mutu ikan tetap terjaga dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat pesisir melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sederhana, praktis, serta sesuai dengan kebutuhan nelayan.Program “Dosen Pulang Kampung” diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat nelayan, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Dosen Departemen PSP FPIK IPB Perkenalkan Inovasi Fortifikasi Tepung Ikan Kepada UMKM Lanting di Kebumen Jawa Tengah untuk Tingkatkan Nilai Gizi dan Daya Saing Produk

Kebumen, (24/08/2026)— Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB Tahun 2026 mendorong pengembangan pangan lokal melalui kegiatan “Diseminasi Inovasi Fortifikasi Tepung Ikan untuk Meningkatkan Nilai Gizi dan Daya Saing Produk UMKM Lanting di Kabupaten Kebumen” di Desa Lemahduwur, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen. Kegiatan diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri atas pelaku UMKM lanting, perangkat desa, serta perwakilan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkukm) dan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kabupaten Kebumen. Tim Dospulkam IPB terdiri atas Prof. Dr. Ir. Tri Wiji Nurani, M.Si; Dr. Retno Muninggar, S.Pi., ME; Rianti Dyah Hapsari, S.T.P., M.Sc.; Dr. Didin Komarudin, S.Pi., M.Si; Dr. Mokhamad Dahri Iskandar, S.Pi., M.Si; dan Sari Rama Dianti, S.Pi., M.Si.

Inovasi fortifikasi tepung ikan pada lanting dikembangkan melalui Riset Nasional (Ri-Na) IPB Tahun 2024 untuk meningkatkan nilai gizi dan nilai tambah lanting. Inovasi ini memanfaatkan ikan ekonomis rendah yang kaya protein sebagai bahan fortifikasi lanting berbahan dasar singkong. Penerapan inovasi dilakukan melalui kegiatan Dospulkam IPB 2026 kepada pelaku UMKM lanting di Desa Lemahduwur. Kegiatan sosialisasi dibuka oleh Dr. Didin Komarudin, dilanjutkan dengan sambutan Kepala Desa Lemahduwur, Teguh Isnentoro dan. Perwakilan dari Bidang Riset dan Inovasi BAPPERIDA Kabupaten Kebumen, Budi Jatmiko, M.Pd. Materi sosialisasi disampaikan oleh Prof. Tri Wiji Nurani, M.Si. dan Rianti Dyah Hapsari, M.Sc. Prof. Tri Wiji menekankan bahwa, pemanfaatan ikan dapat meningkatkan nilai tambah dan memperkaya kandungan gizi produk pangan lokal. Selanjutnya, Rianti Dyah Hapsari, M.Sc memaparkan aspek teknis pembuatan tepung ikan dan penerapannya pada lanting. Pemilihan bahan baku perlu mempertimbangkan karakteristik, nilai ekonomi, ketersediaan, dan kadar lemak karena berpengaruh terhadap metode pengolahan tepung ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung ikan mampu meningkatkan kandungan protein lanting; semakin tinggi konsentrasi tepung ikan, semakin tinggi pula kadar protein yang dihasilkan.

Kegiatan dilanjutkan dengan uji hedonik terhadap tiga sampel, yaitu lanting original, lanting dengan fortifikasi tepung ikan cakalang, dan lanting dengan fortifikasi tepung ikan tongkol. Peserta menilai warna, aroma, rasa, dan tekstur produk. Peserta juga mengikuti pre-test dan post-test untuk mengetahui pengetahuan dan pemahaman mengenai ikan, tepung ikan, fortifikasi, serta tingkat adopsi inovasi.

IPB berharap inovasi fortifikasi tepung ikan dapat ditindaklanjuti oleh pelaku UMKM melalui pengembangan produk, pengujian lebih lanjut, serta penguatan produksi dan pemasaran. Sinergi IPB, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan pelaku UMKM diharapkan dapat memperkuat lanting sebagai produk pangan lokal Kebumen yang lebih bergizi, inovatif, dan berdaya saing.Tim Dospulkam IPB 2026

1 2 3 34