Wujudkan Desa Mandiri Pangan dan Gizi, Tim Dospulkam IPB University Dampingi Warga Buniwah Tegal

TEGAL — Upaya mewujudkan ketahanan pangan keluarga tidak selalu membutuhkan lahan berhektar-hektar. Berbekal pemanfaatan lahan sempit dan semangat gotong royong, tim akademisi IPB University hadir mendampingi masyarakat Desa Buniwah, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Dosen Pulang Kampung (DOSPULKAM) ini mengusung tema “Pendampingan Desa Buniwah Menuju Desa Mandiri Pangan dan Gizi” yang diselenggarakan pada Selasa hingga Rabu, 8–9 September 2026.

Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 30 peserta—terdiri dari ibu-ibu kader posyandu serta para ketua RW di Desa Buniwah—diawali dengan sambutan dari Carik Desa Buniwah, Syamsul Ma’arif. Dalam sambutannya, Syamsul mengatakan, “Kegiatan Dospulkam yang diselenggarakan oleh tim dosen IPB University di Desa Buniwah ini merupakan langkah sinergis dengan program inovasi desa yang sedang berjalan, yaitu Pojok Hijau. Program ini kami gagas untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong secara optimal melalui pengolahan berbasis komunitas di setiap RW.”  Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian pelatihan yang berlangsung dengan semangat kebersamaan dan partisipasi aktif.

Ketua Tim Dospulkam IPB University di Desa Buniwah, Dr. Sugeng Santoso (Dosen FAPERTA), menyampaikan bahwa pendampingan oleh tim dosen bertujuan memperkuat efektivitas program desa tersebut. “Kami hadir untuk menjadikan program Pojok Hijau Desa Buniwah sebagai modal utama masyarakat menuju desa yang mandiri secara pangan dan gizi,” tegas Dr. Sugeng.

Guna memberikan pendampingan secara komprehensif, program Dospulkam kali ini menerjunkan tim kolaborasi lintas disiplin dari empat fakultas IPB University, yaitu: Fakultas Pertanian (FAPERTA), Fakultas Kedokteran dan Gizi Masyarakat (FKGiz), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), dan Fakultas Peternakan (FAPET).

Rangkaian kegiatan pada hari pertama, Selasa (8/9/2026), dibuka dengan pemaparan materi mengenai Makanan Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) untuk konsumsi harian keluarga yang disampaikan oleh Dr. Yayuk Farida Baliwati (Dosen FKGiz). Pemahaman mengenai pemenuhan gizi seimbang harian berbasis bahan pangan lokal menjadi fondasi awal peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Yopi Novita (Dosen FPIK) mengenai pengenalan teknik budidaya perikanan di area dan kondisi air yang terbatas. Dalam pemaparannya, warga diperkenalkan pada beragam metode akuakultur skala rumah tangga seperti Budikdamber (budidaya ikan dalam ember), akuaponik, hingga sistem bioflok yang hemat tempat serta efisien.

Sesi hari pertama ditutup oleh Dr. Asep Tata Permana (Dosen FAPET) yang membagikan panduan praktis teknik peternakan ayam petelur skala rumahan. Penggunaan desain kandang dua tingkat yang terintegrasi dinilai sangat efektif dan efisien untuk lahan terbatas, sekaligus mampu menyuplai kebutuhan protein hewani harian keluarga.

Memasuki hari kedua, Rabu (9/9/2026), kegiatan berfokus pada pengelolaan pekarangan serta pemanfaatan limbah rumah tangga. Dr. Vera Dian Damayanti (Dosen FAPERTA) mengawali sesi dengan memaparkan strategi mengelola pekarangan kecil skala keluarga guna memenuhi kebutuhan sayuran harian. Penggunaan wadah daur ulang, rak vertikal (vertikultur), serta pemilihan tanaman dapur utama seperti cabai, kangkung, dan bayam menjadi solusi praktis bagi warga.

Selanjutnya, Prof. Tri Asmira Damayanti (Dosen FAPERTA) memberikan materi terkait teknik berkebun sehat di rumah memanfaatkan bahan-bahan organik. Prof. Tri memperkenalkan pembuatan teh kompos (compost tea), yaitu pupuk cair organik kaya mikroba bermanfaat yang diolah dari sampah organik rumah tangga.

Masih dalam rangkaian kegiatan Dospulkam, para peserta diajak melakukan pelatihan dan praktik langsung pembuatan teh kompos. Warga diajarkan proses fermentasi, penyaringan, hingga takaran aplikasi pupuk cair tersebut untuk tanaman di pekarangan rumah.

Menuju Buniwah Mandiri Pangan dan Gizi

Pemerintah Desa Buniwah berharap pendampingan dari tim akademisi IPB University dapat mengoptimalkan program inovasi “Pojok Hijau” demi mewujudkan desa yang mandiri pangan dan gizi secara berkelanjutan. Sementara itu, masyarakat—khususnya para kader posyandu dan ketua RW yang hadir—berharap ilmu dan keterampilan praktis yang diperoleh, seperti pemanfaatan pekarangan sempit untuk tanaman sayur, budidaya perikanan dan peternakan rumahan, serta pembuatan pupuk organik, dapat diterapkan secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang keluarga secara mandiri dari pekarangan sendiri. Melalui pendampingan intensif dari para akademisi IPB University, keberadaan program Pojok Hijau di Desa Buniwah diharapkan makin terarah. Sinergi antara pemanfaatan lahan terbatas, budidaya perikanan dan peternakan rumahan, serta pengelolaan sampah organik mandiri diproyeksikan menjadi modal kuat bagi masyarakat Desa Buniwah untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi secara mandiri dan berkelanjutan.

Dosen IPB University Kenalkan Coolbox Bermesin Pendingin kepada Nelayan Cilincing Jakarta Utara

CILINCING, JAKARTA UTARA, 19 Agustus 2026. – Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program “Dosen Pulang Kampung” dilaksanakan dengan menghadirkan inovasi teknologi bagi masyarakat nelayan di Cilincing, Jakarta Utara, DKI Jakarta. Kegiatan tersebut mengusung tema “Aplikasi dan Pengenalan Teknologi Pendingin Portabel dalam Pemberdayaan Masyarakat Nelayan di Cilincing Jakarta Utara, DKI Jakarta.”. Pada kegiatan ini juga di hadiri oleh Bapak Khairinal (Dinas Katahan Pangan, Kelautam dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta), dan Bapak Riyady Akbar (Dinas Katahan Pangan, Kelautam dan Pertanian, Jakarta Utara).

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan Coolbox bermesin  pendingin portabel yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan dalam menjaga kualitas dan kesegaran hasil tangkapan ikan selama proses penanganan, penyimpanan, hingga sebelum dipasarkan.

Bagi masyarakat nelayan, kualitas hasil tangkapan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan nilai jual ikan. Hasil tangkapan yang tidak segera mendapatkan penanganan dan pendinginan yang baik berpotensi mengalami penurunan mutu, sehingga berdampak terhadap pendapatan nelayan.

Melalui kegiatan “Dosen Pulang Kampung”, tim dosen IPB University yang terlibat sebagai anggota diantaranya, Prof. Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M.Sc. ; Prof. Dr. Ir. Sugeng Hari Wisudo, M.Si, Prof. Dr. Ir. Mohammad Imron, M.Si, dan Dr. Fis Purwangka, S.Pi, M.Si.

Pada kegiatan ini Tim Dosen IPB University memberikan edukasi dan demonstrasi secara langsung mengenai prinsip kerja, penggunaan, serta manfaat teknologi pendingin portabel. Para nelayan juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya penerapan rantai dingin (cold chain) dalam mempertahankan mutu hasil perikanan. Coolbox merupakan tempat untuk menaruh ikan hasil tangkapan. Nelayan pada umumnya menggunakan es untuk menjaga mutu ikan hasil tangkapannya. Namun, kali ini diperkenalkan Coolbox yang bermesin pendingin selayaknya feezer.

“Teknologi ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi nelayan untuk mempertahankan kualitas ikan hasil tangkapan, terutama ketika ikan belum dapat langsung dipasarkan,” ujar tim pelaksana kegiatan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga mengikuti praktik penggunaan alat. Demonstrasi dilakukan mulai dari persiapan alat, pengoperasian sistem pendingin, hingga tata cara penanganan ikan agar proses pendinginan dapat berlangsung secara optimal.

Antusiasme masyarakat nelayan terlihat selama kegiatan berlangsung. Para peserta aktif berdiskusi mengenai penggunaan teknologi, kebutuhan energi, kapasitas pendinginan, serta kemungkinan penerapannya dalam aktivitas penangkapan ikan sehari-hari.

Program “Dosen Pulang Kampung” juga menjadi sarana bagi Dosen IPB University untuk mendekatkan hasil penelitian dan inovasi teknologi kepada masyarakat. Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pengenalan teknologi, tetapi dapat mendorong peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menerapkan teknologi tepat guna di sektor perikanan.

Dengan adanya teknologi pendingin portabel, masyarakat nelayan di Cilincing diharapkan mampu melakukan penanganan hasil tangkapan secara lebih baik sehingga mutu ikan tetap terjaga dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat pesisir melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sederhana, praktis, serta sesuai dengan kebutuhan nelayan.Program “Dosen Pulang Kampung” diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat nelayan, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

1 2 3 … 34