Lecturer of FRU-IPB Taking Part the on-Board Training in Japanese Sea Waters

Teaching staff of Department of Fisheries Resources Utilization, Faculty of Fisheries and Marine Sciences (FPIK), Bogor Agricultural University (IPB), Dr. Mochammad Riyanto, S.Pi, MSi, had the opportunity to become the guest researcher in the activity of on-board training on marine microplastic which was held by Tokyo University of Marine Science together with Kyushu University. The on-board training was held for 14 days starting on 30th July until 11th August 2017 using the research vessel of Umitaka Maru (3000 GT).
The visual survey for the macroplastic and the microplastic sampling using the neuston net was conducted in the Sea of Japan starting from Niigata port to Aomori port. The training was followed by 54 students of TUMSAT and two researchers from Indonesia and Thailand.
The sample obtained was analyzed in Kyushu University under the guidance of Prof.Dr. Isobe. The analysis included the type and size of the microplastic, the estimation of the microplastic density in the Sampling Location. The result of the training was expected to be implemented in the development of the marine microplastic research in Indonesia, so as to estimate the distribution and the micropastic density in the waters of Indonesia.
The person in charge of the on board training TUMSAT, Dr. Keiichi Uchida said that the research collaboration was needed to overcome the global microplastic problems. Every year TUMSAT invited the guest researchers in the activities of the survey and the onboard training on marine microplastic debris.**

Published Date : 09-Aug-2017 in https://ipb.ac.id/news/index/2017/08/lecturer-of-ipb-followed-the-on-board-training-in-japanese-sea-waters/5f4eb91b988fdceb17cb8a7ecf83c5f8

Subject : Dr. Mochammad Riyanto, S.Pi, MSi
Keyword : Lecturer of FRU-IPB Taking Part the on-Board Training in Japanese Sea Waters

Photo : Dr. Mochammad Riyanto, S.Pi, MSi, Lecturer of FRU-IPB on-board Umitaka Maru Research Vessel

Perdagangan Ikan Resmi ‘Terlalu Mengabaikan’ Hasil Tangkapan Global

Perdagangan Ikan Resmi ‘Terlalu Mengabaikan’ Hasil Tangkapan Global

Konservasi stok ikan yang semakin menyusut, terhambat oleh kontrol yang buruk pada perdagangan ikan global, menurut penelitian yang dipublikasikan hari Senin, 9 Oktober 2017, dalam Scientific Reports.

Studi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Ekosistem dan Lingkungan (Ecosystems and Environment Research Centre) di Universitas Salford melihat statistik produksi dan perdagangan global dari ikan ‘kakap’ yang populer dan menemukan ketidakkonsistenan dalam pencatatan, artinya bahwa perdagangan ikan kakap yang dilaporkan secara resmi lebih rendah dari 70 %.

Perbedaan utama ditemukan antara impor yang dilaporkan oleh Amerika Serikat, konsumen kakap terbesar di dunia, dan ekspor yang diumumkan oleh pemasok utamanya – Meksiko, Panama dan Brasil.

Selandia Baru melaporkan ekspor kakap yang besar namun studi tersebut menyatakan bahwa ikan yang diperdagangkan sebenarnya adalah kurisi (seabream) perak – penduduk lokal menyebutnya sebagai ‘kakap’, namun termasuk dalam keluarga ikan yang berbeda. Akibatnya, ekspor kakap global meningkat hampir 30%. Perbedaannya, menurut tim peneliti, kemungkinan akan terjadi pada ikan ekonomis dan dieksploitasi lainnya yang tidak memiliki kode perdagangan rinci, seperti ikan kerapu, gulamah (croakers- Pseudociena sp. -red) dan orange roughy (Trachichthyidae -red).

“Tanpa kemampuan untuk melacak spesies ikan secara akurat dalam perdagangan, atau untuk menghubungkan asupan dengan konsumsi, sediaan ikan kakap dan ikan lainnya yang rentan dapat dieksploitasi secara berlebihan daripada dilindungi,” kata Stefano Mariani, profesor konservasi genetika.

“Sama bermasalahnya adalah spesies langka yang diperdagangkan secara ilegal, dengan konsumen membeli produk yang berbeda dengan namanya di label, baik di toko-toko maupun restoran.

“Lebih parah lagi, kekurangan dalam peraturan perdagangan bahkan memungkinkan perusahaan untuk secara ilegal menjual rusa kutub, kerbau, bison, rusa, dll, dengan label “sapi (bovine)”, tanpa diketahui pihak berwenang.”

Bagian dari masalah, tim menyimpulkan, adalah bahwa sistem klasifikasi perdagangan global memperlakukan ikan dengan deskripsi yang terlalu luas, yang memungkinkan spesies yang sangat banyak ditangkap disamakan dengan kode perdagangan generik.

“Terdapat lebih dari 100 spesies yang termasuk keluarga ikan kakap, sangat bervariasi jumlahnya, distribusi, nilai dan kerentanan terhadap penangkapan berlebih. Namun, spesies ini kehilangan identitas mereka begitu mereka diangkut dari air dan dikirim ke tempat tujuan asing,” kata peneliti utama, Dr. Donna-Mareè Cawthorn.

Cawthorn menggunakan “statistik cermin”, membandingkan statistik ekspor dan impor yang diambil dari data pabean untuk setiap Negara yang terlibat perdagangan ikan kakap, dan memeriksa silang data tersebut dengan data perdagangan kakap resmi yang dilaporkan ke Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

“Total impor global sebuah komoditas harus sama dengan ekspor global, kapan pun Anda melihat ketidakcocokan, itu berarti ada beberapa negara yang tidak melaporkan impor atau ekspor produk tertentu, atau keduanya,” katanya, kemudian menambahkan bahwa perdagangan yang tidak dilaporkan berpotensi berasal dari hasil tangkapan yang tidak sah.

Ikan kakap adalah salah satu makanan laut Amerika Serikat yang paling berharga, dengan harga fillet segar dapat mencapai US$ 75 per kg. Ikan kakap merah saat ini berada ditengah perdebatan sengit antara pemerintahan Trump dan para konservasionis yang mengatakan bahwa penangkapan ikan rekreasi membahayakan spesies tersebut.

 

Diterjemahkan dari : https://www.sciencedaily.com/releases/2017/10/171009092924.htm

Referensi Jurnal : Donna-Mareè Cawthorn, Stefano Mariani. Global trade statistics lack granularity to inform traceability and management of diverse and high-value fishes. Scientific Reports, 2017; 7 (1) DOI: 10.1038/s41598-017-12301-x

sumber foto : https://www.sciencedaily.com/images/2017/10/171009092924_1_540x360.jpg

~admin

1 39 40 41 42 43 44