Online KRS Information Genap 2015/2016

Hal-hal untuk diperhatikan dalam KRS online

  1. Uji Coba KRS Online Semester Genap 2015/2016 akan dibuka pada tanggal 26 Januari 2016  pukul 09.00 WIB dan ditutup pada tanggal 28 Januari 2016 pukul 16.00 WIB.
  2. Data Uji Coba KRS Online tidak berlaku sebagai KRS, karena hanya bersifat Uji Coba Sistem. Data hasil uji coba akan dihapus setelah waktu uji coba selesai.
  3. KRS A online Semester Genap  2015/2016 akan dibuka pada tanggal 1 Pebruari 2016 Pukul 09.00 dan ditutup pada tanggal 4 Pebruari 2016 Pukul 16.00 WIB.
  4. KRS B Online akan dibuka pada tanggal 16 Pebruari 2016 Pukul 09.00 dan ditutup pada tanggal 18 Pebruari 2016 Pukul 16.00 WIB.
  5. Mahasiswa yang tidak mengisi EPBM Online pada semester Ganjil  2015/2016 baru dapat mengakses KRS Online mulai tanggal 3 Pebruari 2016 pukul 09.00 WIB sampai tanggal 4 Pebruari 2016 pukul 16.00 WIB
  6. Untuk memulai, lakukan login ke sistem KRS Online (bila mengalami kesulitan, cobalah untuk menghapus cookie browser). Waktu yang tersedia adalah 20 menit setelah login untuk mengisi KRS online. Sistem akan melakukan proses Logout dan Anda harus melakukan Login kembali jika ingin melanjutkan.
  7. Seluruh matakuliah mayor, interdept, minor dan MK pilihan tercantum dalam KRS online.
  8. Matakuliah yang memiliki prasyarat tidak dapat diambil bilamana belum mengambil matakuliah prasyarat tersebut.
  9. KRS Online memberikan informasi besaran SPP yang harus dibayar.
  10. Jangan memberikan akun login (username dan password) anda pada siapapun. Keamanan data anda terletak pada anda sendiri.
  11. Kesulitan/hambatan yg ditemui dalam pengisian KRS Online, dapat disampaikan melalui email ke krs@ipb.ac.idatau datang langsung ke tempat layanan bersama KRS Online di Gedung Pusat Komputer, depan Gedung Perpustakaan IPB.

Biofuel dari Laut, Kenapa Tidak !

Kondisi perairan tropis di Indonesia menyebabkan rumput laut dapat tumbuh sepanjang tahun dengan jumlah biomassa tinggi. Pada tahun 2015 produksi rumput laut Indonesia adalah 10,8 juta ton setara 38,5 persen dari produksi dunia 28 juta ton. Indonesia bahkan menduduki posisi kedua negara pengekspor rumput laut terbesar dunia setelah China dengan persentase 20 persen.

Selain dimanfaatkan untuk bahan pangan, sebagai Phycocoloid, rumput laut juga bermanfaat sebagai bahan aktif alam, dan limbahnya bermanfaat sebagai sumber energi. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Joko Santoso, M.Si mengatakan rumput laut tropis (seperti yang dimiliki Indonesia) kaya akan kandungan gizi mineral makro dan mikro, yakni Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Natrium (Na), Kalium (K), Zat Besi (Fe) dan (Zn) Seng.

“Yang unik dari rumput laut kita adalah kaya akan serat pangan yang berbeda dari serat pangan tanaman darat, seperti buah dan sayur. Serat pangan pada rumput laut mengandung gugus sulfat, sehingga mempunyai karakteristik fisiko-kimia yang unik, misalnya kemampuan untuk mengembang (swelling) dan mengikat asam/garam empedu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan,” ujarnya saat jumpa pers Pra Orasi Ilmiah di Ruang Sidang Direktorat Administrasi Pendidikan Kampus IPB Dramaga, Bogor, Kamis (27/4).

Sementara itu, phycocoloid adalah hidrokoloid polisakarida yang diekstrak dari rumput laut berupa karaginan, agar-agar dan alginat. Kappaphycus alvarezii (Eucheuma cottonii) dan Eucheuma spinosum masing-masing menghasilkan kappa dan iota-karaginan; agar-agar dihasilkan dari rumput laut genus Gracilaria dan Gelidium; sedangkan alginat dihasilkan dari rumput laut genus Sargassum, Padina, Turbinaria yang diperoleh dari alam.

“Agar-agar dan karaginan mempunyai arti penting bagi perekonomian Indonesia. Indonesia baru memiliki 14 industri karaginan. Dan kita baru mampu mengekspor rumput laut kering, belum yang olahan,” terangnya.

Industri pengolahan rumput laut harus dipacu supaya bisa menghasilkan produk-produk turunan dari karaginan dan agar-agar seperti bacto agar. Bisa juga menghasilkan karaginan atau agar dengan berat molekul yang lebih kecil sehingga akan mudah dalam aplikasinya.

Sebagai bahan aktif dari alam, riset-riset yang dilakukan Prof. Joko menemukan bahwa rumput laut mengandung senyawa catechin, fenol, flavonoid dan tannin. Selain itu komponen aktif berupa pigmen klorofil a, klorofil b, dan karoten juga dilaporkan oleh beberapa peneliti termasuk polisakarida bersulfat.

“Senyawa-senyawa ini mempunyai fungsi biologis sebagai antioksidan, antibakteri, anti-inflamasi dan antiproliferasi,” ujarnya.

Nah, temuan terbarunya adalah pemanfaatan limbah rumput laut yang tidak lolos masuk industri dan rumput laut jenis no edible untuk biofuel. Temuan ini bisa mengantisipasi persaingan bahan baku bioenergi dengan sumber bahan pangan dan memiliki lahan budidaya yang luas (luasan perairan Indonesia) sehingga tidak perlu berebut dengan lahan pertanian, pemukiman, perkebunan dan kehutanan.

 

Keunggulan lain rumput laut sebagai bioenergi adalah tingginya produktivitas dan kandungan karbohidratnya. Selain itu, rumput laut tidak mengandung lignin sehingga mudah terdegradasi.

“Saran saya, pemerintah hanya bertugas sebagai regulator yang menyediakan fasilitas memudahkan akses. Biarkan swasta yang kelola,” pungkasnya.(zul).

 

Sumber : http://ipbmag.ipb.ac.id/pojokriset/107f5cb92ffc6d25ade7b37edae9e1f6/Guru-Besar-IPB-Biofuel-dari-Laut-Kenapa-Tidak

1 116 117 118 119 120 121